SEKILAS INFO
: - Senin, 29-11-2021
  • 2 tahun yang lalu / SMP Islam Asy-syakirin mendapatkan Akreditasi A. Terimakasih atas do’a dan dukungannya.
  • 2 tahun yang lalu / SMP Islam Asysyakirin akan melaksanakan Akreditasi pada tanggal 24-25 Oktober 2019, Mohon doa dan dukungannya untuk kelancaran proses asesmen.
Sekolah Anti-Gadget

Waldorf School sudah mencanangkan penolakan gadget dalam proses pembelajaran sejak 5 tahun lalu. Sekolah ini sudah sangat populer di kalangan petinggi perusahaan IT di Silicon Valley.

“Saya terlibat dalam dunia pendidikan tak kurang dari 26 tahun, dimulai dari tingkat Pra-TK sampai dengan SMA. Baik dari mengelola sekolah unggulan maupun SPK ( Satuan Pendidikan Kerja Sama), yang menerapkan sistem eropa maupun sekolah Internasional yang memiliki sistem lain” kata Haidir Bagir.

Beliau mengatakan sistem tersebut sudah di pakai di berbagai negara. Selain itu beliau juga sudah 20tahuna-an terlibat dengan pendidikan anak-anak du’afa. Mendirikan pendidikan-pendidikan gratis, formal dan informal. Yayasan yang ia dirikan sudah didirikan telah melatih kurang lebih 30.000 guru, khususnya guru dari sekolah-sekolah negeri di negara kita.

Ia juga hampir 10 tahun-an memimpin 10 transformasi perusahaan , dari perusahaan penerbitan berbasis kertas menjadi perusahaan pernerbitan berbasis digital.

Menolak Gadget

Dalam langkah ini beliau tidak sendirian, ia pun tidak menjadi yang pertama dalam hal ini. Karena sudah sejak 5 tahun lalu, sekolah yang sangat populer di petinggi perusahaan IT di Silicon Valley yaitu Waldorf School pun sudah mencanangkan ide ini.

Sejak 2 Tahun lalu ia mengenalkan Waldorf School di jaringan sekolahnya. Waldorf School yang diinisiasi oleh Joseph Steiner dan di sponsori oleh Waldorf Astoria Hotel tidak hanya populer di Finlandia tetapi sudah mulai menyebar di China.

Sejalan dengan sikap pemilik perusahaan berbasis IT seperti Bill Gates, Steve Job dan Marc Juckerberg melarang penggunaan Gadget dalam proses pembelajaran dan menggantinya dengan hands-on-learning atau yang biasa disebut pembelajaran yang melibatkan aktivitas fisik.

Baik Waldrof School maupun sekolah-sekolah sejenis merasa harus membatasi screen time (waktu di depan layar) terutama untuk anak usia dibawah 14 tahun. Selain dapat merusak indra pengelihatan itu juga dapat membatasi ruang anak dan cenderung anak tersebut anti-sosial di masa dewasa maupun pada masanya saat ini.

Mereka juga merujuk pada berbagai hasil riset yang mengungkapkan ekses-ekses penggunaan gadget pada anak mengacu potensi pada depresi, attention deficit disorder, turunnya kualitas motorik anak yang mengakibatkan kesehatan menurun akibat kurang gerak dan gadget addiction yang bisa merampas waktu untuk melakukan berbagai kegiatan.

Penelitian Lain 

Tentu saja bukan hal negatif yang hanya saja didapat, hal positifnya riset menunjukan bahwa adanya peningkatan pembelajaran siswa yang menggunakan gadget sebagai alat bantu belajar.

Akan tetapi lebih jelasnya siswa lebih baik dibekali dengan dasar-dasar keterampilan numerik dan keberaksaraan sebelum menggunakan penggunaan maksimum gadget dalam kehidupannya.

Apa yang disampaikannya diatas, kontroversi masih melingkupinya. Sekiranya perlu mendapatkan perhatian secukupnya. Apalagi jika diingat ada banyak kemungkinan bahwa dunia industri gadget itu mengaburkan pandangan negatif ini, karena besar taruhan bisnis mereka.

Apalagi, pembahasannya diatas belum mencakup persoalan “kapitalisme pengintaian” (surveilance capitalism) yang bisa membuntuti anak-anak sejak kecil jika tidak dibatasi dengan penggunaan gadget secara sehat sesuai dengan tingkat usia mereka. Belum lagi persoalan keterpaparan pornografi, perundungan online (cyber bullying)  dan lain-lain yang harus dipertimbangkan.

Haidar Bagir. Pendiri Compassiate Action Indonesia; Pengajar Filsafat dan Mistisisme Islam di ICAS-Paramadina.

TINGGALKAN KOMENTAR

Open chat